Langsung ke konten utama

Nasib Sebatang Pohon

 

Sebatang pohon besar diam mengamati pemandangan di sekitarnya. Ia melihat sepasang kekasih yang saling merayu dan tersipu. Ia pun menangis sedih dan bertanya dalam hatinya, “Seandainya aku ini manusia, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama. Bulan begitu indah dan cerah. Mereka berduapun terlihat sangat romantis. Mengapa aku harus terlahir sebagai sebatang pohon yang hanya berdiri di tempat?”

Melihat sang pohon yang bersedih itu, seekor burung gereja datang mendekat dan hinggap pada dahannya. “Ada apa pohon? Mengapa kamu bersedih? Apa yang kamu rasakan?”

 “Aku ingin menjadi manusia. Aku ingin merasakan cinta layaknya sepasang kekasih yang duduk tepat di bawahku ini,” jawab sang pohon. Burung itu mengangguk dan bertanya, “Jika kamu sudah menjadi manusia, apakah kamu akan bahagia?”

Sang pohon mengangguk, “Aku akan sangat bahagia. Aku tidak akan meminta hal lain dalam hidupku. Dapatkah kamu membantuku?” Burung gereja itu mengangguk dan berkata, “Baiklah. Kalau begitu pejamkan matamu dan tidurlah. Besok, kamu akan menjadi seorang manusia.” Pohonpun mengikuti perkataan burung gereja itu. Ia memejamkan matanya.

  Keesokan harinya, ia mendapati dirinya tidak lagi berada di taman seperti biasa. Ia menekan alas tempat ia berbaring. Nyaman dan empuk. Di mana aku? Mengapa tubuhku terasa ringan? Ia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Ia menatap sebuah kotak yang memantulkan bayangan di depannya, masih dalam posisi terduduk.

            Ia melihat seorang laki-laki yang sangat gagah. Dadanya begitu lapang, kakinya kuat dan dapat diayunkan, lengannya yang besar dan kokoh. Ia hampir tak percaya ketika menatap wajahnya. Ia tersenyum berulang kali dan mencoba untuk menggerakkan mulutnya. “Ha..halo..” katanya sembari melambaikan tangan ke arah kotak itu. Ia terkejut mendengar suaranya yang terdengar gagah dan berat.

            Ia bangkit dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamarnya. Matahari menerobos masuk dan semilir angin menerpa wajahnya. Si burung gereja datang menghampirinya. “Apa yang kau rasa?” tanyanya. “Aku merasa hebat.Aku merasa sempurna. Terima kasih,” ujarnya. Si burung gereja itu mengedipkan sebelah matanya dan kemudian terbang ke suatu tempat. Manusia baru ini mulai mengenakan bajunya. Ia pernah melihat cara berpakaian beberapa orang yang dulu sering duduk dan bersandar pada tubuhnya.

            Ia pergi berkeliling. Ada seorang wanita tua yang hendak menyeberang. Manusia ini kemudian membantunya untuk menyeberang, begitulah yang pernah ia lihat dulu. Sang wanita tua itu berterima kasih dan bertanya “Siapa namamu, nak?” Manusia ini mulai bingung. Apa itu nama? Apakah hal itu penting bagi seorang manusia?

            Ia memandang berkeliling. Ia mendengar beberapa orang mengobrol dengan teman mereka dan mereka saling memanggil nama satu dengan yang lain. Manusia ini berjalan dengan sedih karena ia tidak memiliki nama.

            Melihatnya bersedih, si burung gereja datang ke arahnya dan hinggap di pundaknya. Manusia itu kemudian menceritakan kesedihannya. Si burung menolongnya. Ia mengajak manusia itu ke suatu tempat di sana terdapat daftar nama-nama manusia yang cukup populer hari-hari ini. Manusia itu melihat-lihat daftar nama tersebut dan mencocokkan maisng-masing nama dengan karakter yang ia miliki.

            “Aku ingin menjadi seorang laki-laki yang misterius. Jadi, aku akan memilih nama George. Orang-orang akan memanggilku G. Bukankah itu terdengar keren?”

            Sang burung mengedipkan sebelah matanya dan bertanya, “Apa yang kau rasa?” Jawab G dengan bersemangat, “Aku merasa keren.” Mendengar hal itu, burung gereja itu terbang menjauh dan membiarkan G untuk menikmati harinya.

            G berjalan dan melihat seorang gadis bertubuh mungil dan cantik. Ia terlihat sangat menarik. Kulitnya halus dan bibirnya indah. G mendekatinya dan bertanya padanya, “Hai gadis, aku ingin kamu menjadi kekasihku,” ujarnya. Wanita itu terkejut dan menamparnya. “Kau bukan orang terkenal. Aku tidak mengenalmu,” ujarnya. “Tunggu, aku sudah memiliki nama. Namaku G. Aku cukup misterius. Bagaimana mungkin kamu tidak mengenalku?”

            Gadis itu tersenyum sinis dan berkata, “Jika kamu ingin dengan mudah mendapatkan pasangan, kamu harus jadi kaya dan terkenal terlebih dahulu, barulah mereka akan memandangmu.” G mengerutkan dahi. “Apa itu kaya dan terkenal?” Wanita itu menunjuk ke arah billboard di depannya. G melihat seornag laki-laki dengan pakaian yang sangat mahal, tampan, kaya, dan terkenal terpasang di mana-mana. Semua orang mengenalnya dan mengaguminya.

            “Tidak ada wanita yang tidak menyukai pengusaha tampan sepertinya,” ujar gadis itu dan berlalu pergi. G duduk terdiam dan mulai merajuk. Ia memandang ke langit dan si burung gereja itu datang. “Aku ingin menjadi kaya dan terkenal. Aku ingin memiliki seorang wanita yang memujaku.”

            Si burung gereja berkata, “untuk bisa mendapatkannya, kamu harus bekerja dan menabung dengan baik. “ “Lalu, bagaimana caraku untuk mulai bekerja?” tanyanya. “Kau harus bekerja dari hal-hal yang kecil dulu baru kemudian kau bisa mengerjakan hal-hal yang besar,” jawab sang burung dengan lembut. “Kalau begitu, berikan aku pekerjaan. Aku akan melakukannya.”

            G mulai mendapatkan pekerjaan dari pelayan toko. Ia mengerjakan tugasnya dengan tekun dan bijaksana.Ia juga sangat ramah dan disukai oleh banyak orang. Dua tahun kemudian, ia naik jabatan menjadi kepala dapur, karena ia pintar memasak dan banyak orang mulai memujinya. Ia terus mencapai prestasi, hingga suatu saat, ia menjadi seorang chef yang sangat terkenal karena kepiawaiannya dalam memasak.

            Beberapa stasiun televisi mulai memberi kontrak untuk bekerja sama dengannya. G menjadi orang yang sangat dipertimbangkan. Suatu hari, ia menatap ke jendela kamarnya dan melihat seekor burung gereja. Burung itu kembali bertanya, “Apa yang kau rasa?”

            G menjawab dengan bangga, “Aku merasa hebat.”

            G semakin senang karena ia mulai memiliki banyak penggemar. Akun sosial medianya pun dipenuhi dengan komentar dan pengikut. Ia dapat mencapai tujuannya untuk menjadi kaya dan terkenal. Beberapa restoran atas namanya juga telah resmi dibuka.

            Kemudian, G datang pada gadis yang pernah mencibirnya dan bertanya, “Maukah kau menjadi kekasihku?” Gadis itu menatapnya tersipu dan menganggukkan kepala. Si burung gereja yang hendak mendekatinya harus tertolak karena G tidak mau ia hinggap dipundaknya. “Hei burung, jangan kau hinggap dipundakku. Jas ini mahal. Aku tidak mau kau mengotorinya. Kamu pasti hanya ingin bertanya bukan, Apa yang kurasa? Aku akan menjawabnya, Aku merasa sempurna. Aku tidak memerlukanmu lagi. Pergilah jauh-jauh dan temukan pohon lain yang ingin menjadi manusia.”

            Si burung gereja terlihat sangat terkejut. Ia sedih dan menangis. Ia terbang meninggalkan G.

            G hidup berfoya-foya. Semua yang dia lakukan hanyalah menghabiskan hartanya untuk menyenangkan kekasihnya.

            Suatu hari, ketika G akan menemui kekasihnya diam-diam, ia melihat kekasihnya berjalan dengan orang lain dan terlihat snagat mesra. Hati G hancur dan ia bertanya apa alasan dari semua itu. Sang gadis menjawab, bahwa selama ini ia hanya mempergunakan kekayaan G untuk mendapatkan segalanya. Tapi, ia tidka pernah mencintai G.

            G benar-benar terluka. Perlahan, semua orang yang memujanya mulai meninggalkannya. Hartanya habis karena berfoya-foya. Semua yang pernah diijinkan ada dalam hidupnya diambil total tak bersisa.

            G menangis dan menatap ke langit. Berkali-kali ia memanggil burung itu, tapi burung itu tak juga datang. G merasa sendiri. Tak seorangpun mendekatinya. Tak seorangpun peduli padanya. Ia begitu menyesal.

            Suatu hari ia berjalan ke taman tempat dulu ia berdiri di sana sebagai sebatang pohon. Taman itu begitu sepi. Tak ada lagi pepohonan di sana. Kering da gersang. Air matanya menetes dan hatinya terluka. “Aku rindu. Aku sungguh merindukan diriku yang dulu.”  G menangis keras.

            Si burung gereja datang mendekat dan bertanya, “ Bolehkah aku hinggap di pundakmu?” G mengangguk. “Maafkan aku karena telah mengusirmu.”

            “Apa yang kau rasa?” tanya burung itu. “Aku merasa sangat kecewa. Aku ingin kembali menjadi pohon seperti sedia kala.”

            Burung itu mematuk tangannya dan berkata, “Sudah terlambat. Kau harus berusaha untuk tetap hidup sebagai manusia.”

            Sungguh ironis bukan? Bukankah terkadang kita hidup seperti G? Kita terus menerus meminta segala sesuatu yang lebih dan lebih tanpa pernah berterima kasih untuk hari ini. Tanpa sadar, ambisi kita justru melukai orang-orang di sekeliling kita yang selalu ada untuk kita dna mendoakan kita. Pernahkah kita berterima kasih kepada mereka untuk setiap perhatian dan doa yang mereka beri untukmu? Sepertinya, belum kan? Berapa banyak dari kita yang datang dan berterima kasih ketika kita membutuhkan bantuan? Dan berapa banyak dari kita yang akan tetap tinggal dengannya sampai akhir? Atau justru kita memilih untuk melepaskannya dan kembali pada ambisi kita?

            Keinginan tidak akan pernah selesai. Keinginan membuat kita tidka pernah puas bukan akan banyak hal di dunia ini? Ingin ini ingin itu, ingin yang lain dan terus akan seperti itu. Sampai kapan keinginanmu terus tumbuh? Sampai kapan kamu akan terus merasa tidak puas? Tentukanlah jawabnya. Karena hanya kamu dan dirimu yang mengerti. Jadi, apa yang kau rasa hari ini?

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Cerita Rasa-Persiapan

Setiap hari ketika ku bangun dan membuka mata, selalu ada persiapan baru yang harus kulakukan. Persiapan untuk hari ini. Mandi, membersihkan, rumah, berpakaian, memasak, berdandan, dan tentunya kesempatan untuk merenung. Merenung akan hal baik atau buruk yang sedang terjadi.  Sulit memang untuk mengerti kondisi buruk, karena fokus kita hanya pada situasi baik. Jika semuanya berjalan dengan baik, semudah itu untuk tersenyum. Semudah itu untuk bahagia. Bagaimana jika kondisi itu tak lagi baik?  Ketika menyukai seseorang, kita cenderung lebih bersemangat dalam melakukan segala sesuatu. Rasanya hari-hari menjadi lebih produktif dan sibuk. Bagaimana jika ternyata masalah datang dan seseorang itu pergi, sulit bukan bagimu untuk tetap semangat? Sesekali menangis dan air mata jatuh sendiri. Sulit untuk melakukan pekerjaan rutin. Rasanya terlalu malas meskipun hanya untuk melangkah.  Itulah mengapa kamu perlu melakukan persiapan. Kita tidak pernah tahu di depan se...

Anak Laki-laki Bertopi Hijau

           Seorang anak laki-laki bertubu h mungil berjalan dengan sepatu usangnya sa mbil menangis. Ibunya tergopoh-gopoh menghampiri. Sang wanita separuh baya itu bertanya, “Ada apa anakku? Mengapa kamu menangis?” Sang anak tak dapat menahan tangisnya dan meronta-ronta. Sang ibu yang kebingungan hanya dapat memeluknya sembari menepuk pundaknya dan berkata, “Kapanpun kau ingin menceritakannya, ibu akan mendengarkan. Jika sulit bagimu untuk mengatakannya sekarang, ibu tetap menunggunya.”             Keesokan harinya, anak lelaki itu berlari lebih kencang sampai baju lusuhnya sobek. Ia menangis lebih keras dari sebelumnya. Sang ibu lagi-lagi memeluknya dan menepuk pundaknya. Ibu juga melepas kaos anak itu dan menjahitnya dengan rapi. Melihat sang ibu yang tidak bertanya apa-apa dan hanya menjahit baju, anak itu mendekat dan bertanya, “Ibu, aku lapar. Apakah ada makanan?”    ...

Penikmat Kopi dan Senja

  Kamu melambai ke arahku, dengan senyum riang dan tatapan lembut. Sekarang aku benar-benar melihat wajah aslimu. Rupanya, tidak jauh berbeda dari perkiraanku.  "Ini senja," katamu seolah bertanya padaku apakah tidak apa-apa jika pulang malam. Aku tersenyum. Entah mengapa semua menjadi tak masalah jika bersamamu. Aku melihatmu terkejut ketika mendengarku memesan Americano double shot. Aku tahu isi hatimu. Kamu berpikir perempuan sepertiku pasti lebih menyukai minuman-minuman manis dengan banyak gula dan susu. Kamu tersenyum tipis dan mengikuti pilihanku. Tatapan mata kita beradu. Dua gelas kopi di depan kita mulai srut sedikit demi sedikit menyaksikan obrolan kita yang menggelikan. Kamu bilang kamu lebih menyukai langit senja yang teduh, tenang, dan tidak panas. Sesekali kamu melepas kacamata minusmu dan terlihat garis-garis wajahmu yang tegas, memperhatikanku berkata-kata.  Kamu menatapku lekat sembari melipat kaos lengan panjangmu berkata tersipu, "Aku nervous bertemu ...