Langsung ke konten utama

3. Cerita Rasa-A Quarter Life Crisis

Apa yang kamu rasakan ketika kamu bangun dengan usia baru dan kamu menyadari usiamu sudah 25 tahun???


Ada yang senang karena semua yang ia inginkan sudah terwujud. Misalnya saja, rumah mewah, pekerjaan tetap, atau pasangan yang mendampingi sepanjang hidupmu. Jadi usia 25 tahun bukanlah hal yang sulit untuk dilalui. 

Bagaimana dengan kalian yang mulai bertanya-tanya, bahkan sampai saat kalian membaca post ini, kalian terus bertanya-tanya. Ada banyak hal yang ingin kalian sampaikan tapi terasa sulit untuk menerjemahkan pemikiran kalian. Ada banyak pertanyaan yang rasanya membutuhkan jawaban namun sangat sulit untuk menerka-nerka kondisi kalian saat ini. 

Kalian mulai khawatir dan merasa sendiri. Ada banyak hal-hal biasa yang mulai mengganggu kalian. Di mulai dari harapan kalian akan masa depan. Rancangan dan desain gambar kalian tentang masa depan sempurna yang sepertinya begitu mudah kalian genggam ketika kalian bermimpi. Tapi kalian mulai merasa bahwa realita memberikan kepalsuan dari mimpi kalian itu. 

Mungkin ada juga di antara kalian yang sedang kecewa dengan seseorang. Kalian begitu berharap mendapatkan kesempatan bersama dengan seseorang yang sangat kalia sukai, tapi mengapa ia begitu sulit untuk digapai. Begitu berat untuk berlari ke arahnya meskipun kamu suda menyerahkan seluruh kekuatan dan energimu untuknya. 

Disitulah kalian mulai berpikir, apakah aku terkena krisis seperempat abad? 

Tekanan, tantangan dan masalah yang datang dalam hidupmu terus menerus silih berganti tanpa ada penyelesaian yang pasti. Satu masalah belum selesai sudah ditambah masalah lain. Kekecewaan dan masalah yang menumpuk membuatmu BURN OUT dan ingin kabur saja. Tapi mau tak mau kamu harus menghadapinya. Aku percaya kamupun sedang merasakan hal itu.  

Tapi tenang. Jangan terburu-buru mengambil keputusan dan tindakan yang salah. Pikirkan segala sesuatu matang-matang. Apa sebenarnya yang membuat krisis itu datang melanda dirimu? Mari, kita pelajari bersama dengan tanpa tekanan. Nikmati setiap tulisan ini sambil kamu merefleksikan dirimu. 

Hal pertama yang sering terjadi adalah kamu merasa bahwa kamu cukup mampu melakukan segala sesuatu. 
Ketika dihadapkan dengan sebuah situasi, kamu merasa mampu menyelesaikannya sendiri. Kamu sering berkata, "Aku bisa. Aku tidak butuh pendapat atau bantuan orang lain." Bukankah begitu? 
Belum lagi, kamu merasa sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Kamu berpikir bahwa keputusan yang kamu ambil bersifat tepat dan semuanya akan baik-baik saja. Tanpa kamu sadari rupanya kamu tidak memikirkan resiko dibalik keputusan itu. Setelah menyadari resiko yang terlalu berat dan kemudian kamu gagal, kamu merasa kecewa. Kamu marah dan menyalahkan keadaan, mengapa semua tidak berjalan semulus yang kamu inginkan. Herannya kamu mulai mencari kambing hitam untuk disalahkan. Kamu masih merasa bahwa kamu benar dan orang lain salah. Egomu yang terlalu tinggi terus menyerukan kebenaran dan kamu terus menutup telingamu serta bersikap bodo amat terhadap situasi dan kondisi saat ini. 

Baik. Ada alasan kedua. Kamu berharap lebih tapi kamu takut terluka. 
Seberapa banyak dari kalian yang mudah jatuh cinta tapi takut kecewa. Kita ambil contoh saja, kamu menyukainya. Dia meresponmu. Kamu terbawa perasaan. Begitu bahagia. Kamu mulai membayangkan sebentar lagi dia akan menjadi milikmu. Tapi ternyata kamu menyadari ada hal yang sedikit aneh dengannya dan kamu sadar bahwa hatinya tidak 100% untukmu. Rupanya, ia memberikan separuh hatinya untuk orang lain. Ketika mengetahui hal itu, kamu mulai terluka. Hatimu hancur dan kamu memutuskan untuk menyerah. Ada dendam dalam hatimu yang membuatnya terlalu pahit untuk memaafkan. Kamu mulai bersumpah jika nanti dia tiba-tiba mencarimu, kamu tidak mau lagi menanggapinya. Kamu terlalu kecewa. Tunggu, bukankah kamu sendiri yang berkata akan mencintai segala kekurangan dan kelebihannya? Bukankah kamu sendiri yang memutuskan untuk menerima rasa cinta itu di dalam hatimu? Lalu, mengapa kamu justru berhenti untuk berlari? Mengapa justru kamu marah dan menyalahkan keadaan? 

Alasan selanjutnya adalah, kamu ingin sesuatu yang sempurna. 
Setelah menonton drama kesukaanmu atau film kesukaan atau justru membuka profil instagram para selebgram kesukaanmmu, kamu mulai membayangkan memiliki tubuh yang ideal, tinggi dan langsing. Kamu memiliki wajah yang tanpa cela, bahkan jerawat dan komedo satupun tidak berani untuk bersarang di sana. Kamu mulai berkhayal untuk hidup dalam drama. 
Ternyata, kamu tidak hidup dalam drama itu. Kamu hidup dalam kisahmu sendiri. Kamu mulai menyadari suatu kesempurnaan. Kamu menghajar tubuhmu mati-matian untuk diet. Kamu menahan keingininanmu untuk makan. Kamu mulai menggunakan produk-produk makeup dan skin care seperti para selebgram. Kamu mulai kecanduan dengan sosial media. Kamu tidak bisa berhenti untuk scroll exploremu hanya untuk mencari kesempurnaan itu. Padahal seharusnya kamu sadar bahwa kesempurnaan itu tidak ada. No body's perfect. 

Aku ingin agar kamu kembali pada realitas dan berusaha untuk memahaminya. Semua yang perlu kamu lakukan untuk menghadapi krisis ini adalah tenang. Calm down. Semua bisa diselesaikan hanya jika kamu tenang. Biarkan sosial mediamu membisu selama seminggu, sebulan atau lebih. Cari sumber utama krisis ini dimulai. Bagaimana mereka mencuci kepercayaan dirimu dan membuatmu terpuruk. 

Lalu, kemudian lakukan hal-hal berikut ini:
Nikmati hidupmu hari ini.
Seberapa banyak dari hidupmu yang hanya memikirkan kondisi hari ini?
Semua yang kamu pikirkan hanyalah besok bagaimana? Tahun depan seperti apa? Sepuluh sampai 20 tahun ke depan aku akan menjadi apa? 
Jika bukan besok, kamu hanya akan hidup dalam penyesalan akan kemarin. Andai saja kemarin begini, pasti hari ini lebih baik. Andai saat itu aku begitu pasti hari ini aku tidak akan seperti ini. Kamu hanya hidup dalam pengandaian tanpa kamu tahu bahwa hari ini adalah moment terpenting untukmu. 

Hari ini hanya akan berlangsung hari ini saja selama 24 jam. Setelah itu hari ini hanya akan menjadi kenangan. Pikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan hari ini dengan penuh syukur, maka besok kamu tidak akan menyesal. Maka tahun depan akan ada memori yang indah tentang hari ini. Sederhana bukan? Hanya pikirkan hari ini. Berjuanglah mati-matian untuk hari ini agar besok menjadi hari yang lebih menyenangkan dan berhasil.

Kemudian, berdamailah dengan dirimu sendiri.
Jika ada hal-hal yang tidak sesuai keinginanmu dan kamu merasa hidupmu kosong, kamu hanya perlu untuk menuliskan perasaanmu dalam diary agar kamu bisa mengekspresikan diri. 
Lakukan sesuatu yang positif
Hargai dan terima dirimu. Dia sudah berjuang bersamamu selama 25 tahun hidupmu. Katakan sesuatu yang menyenangkan tentangnya. Ajak dia curhat dan perlakukan dia sebagai seorang sahabat. Kenali dirimu lebih. Bagaimana potensinya. Baik dan buruknya. Kenali dan hargai,    karena jika kamu saja tidak bisa menghargai dirimu, bagaimana dengan orang lain yang ingin menghargaimu. 

Jadi, kamu tidak perlu merasa sendiri karena ada banyak orang yang mengalami siklus yang sama denganmu. Setiap orang memiliki jalan dna waktu sendiri-sendiri. Jika teman-temanmu sekarang sudah menikmati hidupnya, biarlah, karena mungkin mereka sudah berjuang keras sebelum kamu berjuang. Nanti, kamu juga akan kebagian waktu terbaik sendiri. Jika kamu merasa iri dengan hidup masa hidup orang lain, banyak juga orang yang iri dengan masa hidupmu. Jadi, hiduplah sebagai dirimu sendiri. Kuatlah dan hadapilah tantangan di depanmu dengan realita. Kalahkan egomu dna belajarlah rendah hati serta menerima dirimu apa adanya. 

Terima kasih karena sudah bertahan. Kutunggu ceritamu ya. Selamat 25 tahun.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Harimu Menjadi Lebih Produktif

  HOW TO MAKE YOUR DAILY PRODUCTIVE ROUTINE               Terkadang meskipun terlihat sibuk dan mengerjakan sesuatu, rupanya ada banyak hal yang tidak produktif kita kerjakan. Apalagi di tengah situasi yang mengharuskan kita untuk tinggal di rumah sepanjang waktu. Rasa bosan dan bingung akan membuat kita semakin tidak menikmati hari-hari kita. Ada beberapa cara yang dapat membantumu untuk lebih produktif setiap hari. Let’s dive in!             Bangunlah lebih pagi . Be morning people, benar-benar sangat sulit bagi mereka yang sudah terbiasa bangun siang karena situasi. Atau mungkin bangun pagi tetapi tidak melakukan apapun di pagi hari selain bersiap untuk berangkat kerja. Nah, mulai sekarang, biasakan untuk bangun lebih pagi satu jam dari biasanya.             Buat To-Do-List . Setelah bangun pagi, coba bu...

Anak Laki-laki Bertopi Hijau

           Seorang anak laki-laki bertubu h mungil berjalan dengan sepatu usangnya sa mbil menangis. Ibunya tergopoh-gopoh menghampiri. Sang wanita separuh baya itu bertanya, “Ada apa anakku? Mengapa kamu menangis?” Sang anak tak dapat menahan tangisnya dan meronta-ronta. Sang ibu yang kebingungan hanya dapat memeluknya sembari menepuk pundaknya dan berkata, “Kapanpun kau ingin menceritakannya, ibu akan mendengarkan. Jika sulit bagimu untuk mengatakannya sekarang, ibu tetap menunggunya.”             Keesokan harinya, anak lelaki itu berlari lebih kencang sampai baju lusuhnya sobek. Ia menangis lebih keras dari sebelumnya. Sang ibu lagi-lagi memeluknya dan menepuk pundaknya. Ibu juga melepas kaos anak itu dan menjahitnya dengan rapi. Melihat sang ibu yang tidak bertanya apa-apa dan hanya menjahit baju, anak itu mendekat dan bertanya, “Ibu, aku lapar. Apakah ada makanan?”    ...

2.Cerita Rasa-Hari Bahagia

Sebuah hari yang seringkali kita impikan adalah hari di mana kita benar-benar merasa spesial dan bahagia. Wedding party, birthday party, atau hari-hari yang selalu kita rayakan. Kumpul bersama teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang kita sayangi. Belum lagi mendapatkan hadiah untuk dibuka satu per satu. Menyenangkan bukan? Mendapat ucapan selamat. Rasanya kebahagiaan itu tak pernah ingin kita bagi dengan orang lain. Lebih parahnya lagi, kita menjadi egois dan ingin menunjukkan kepada semua orang betapa bahagianya kita hari itu.  Namun, setelah hari itu selesai, masihkah perasaan bahagia itu meliputi hidup kita? Atau justru kita memilih untuk diam dan menyalahkan keadaan. Mengapa aku baru tahu sekarang tentang sikap dan karakter orang yang kupilih? atau mengapa di usia baruku, justru tantangan dan masalah datang bertubi-tubi?  Lalu kemudian kita merasa seolah-olah hidup sendiri. Tidak ada satupun yang mengerti keadaan kita. Bukankah demikian? Pikiran negatif sering...