Langsung ke konten utama

1. Cerita Rasa-Persiapan

Setiap hari ketika ku bangun dan membuka mata, selalu ada persiapan baru yang harus kulakukan. Persiapan untuk hari ini. Mandi, membersihkan, rumah, berpakaian, memasak, berdandan, dan tentunya kesempatan untuk merenung. Merenung akan hal baik atau buruk yang sedang terjadi. 

Sulit memang untuk mengerti kondisi buruk, karena fokus kita hanya pada situasi baik. Jika semuanya berjalan dengan baik, semudah itu untuk tersenyum. Semudah itu untuk bahagia. Bagaimana jika kondisi itu tak lagi baik? 

Ketika menyukai seseorang, kita cenderung lebih bersemangat dalam melakukan segala sesuatu. Rasanya hari-hari menjadi lebih produktif dan sibuk. Bagaimana jika ternyata masalah datang dan seseorang itu pergi, sulit bukan bagimu untuk tetap semangat?

Sesekali menangis dan air mata jatuh sendiri. Sulit untuk melakukan pekerjaan rutin. Rasanya terlalu malas meskipun hanya untuk melangkah. 

Itulah mengapa kamu perlu melakukan persiapan. Kita tidak pernah tahu di depan seperti apa kondisinya. Tetapi dengan persiapan yang matang, akan lebih mudah untuk melakukan sesuatu. 

Terkadang untuk membuat persiapan itu berkesan, aku memutuskan untuk membuat daftar apa saja yang akan kulakukan hari ini. Termasuk memilih baju dan make up untuk kukenakan. Bagiku keduanya akan memberikan kepercayaan diri untuk memulai hari. 

Apakah tidak jenuh melakukan rutinitas yang begitu-begitu saja? Tentu saja sangat jenuh. Tapi, aku memilih untuk melakukan apa yang kusuka. Ketika jenuh, aku hanya perlu mendengarkan musik atau memainkan sebuah lagu dengan keyboard atau piano. Moodku kembali dan semudah itu untuk memulai hariku. 

Aku juga menuliskan semua isi pikiranku dalam jurnal sehari-hari. Lebih mudah bagiku untuk meluapkan emosi maupun menceritakan kebahagiaanku dengan melakukannya. 

Coba, luangkan sebentar waktumu untuk mempersiapkan dirimu hari ini. Berhenti berpikir bahwa hari ini buruk. Meskipun tadi malam suasana hatimu buruk, tapi pagi ini cobalah melakukan persiapan yang matang supaya buruk itu tergantikan dengan baik. Jangan katakan bosan dulu jika kamu belum memulainya. Nanti saja bosannya. Ditunda dulu. Tantang dan hadapi hari ini. 

Semoga persiapan hari ini berjalan dengan baik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Laki-laki Bertopi Hijau

           Seorang anak laki-laki bertubu h mungil berjalan dengan sepatu usangnya sa mbil menangis. Ibunya tergopoh-gopoh menghampiri. Sang wanita separuh baya itu bertanya, “Ada apa anakku? Mengapa kamu menangis?” Sang anak tak dapat menahan tangisnya dan meronta-ronta. Sang ibu yang kebingungan hanya dapat memeluknya sembari menepuk pundaknya dan berkata, “Kapanpun kau ingin menceritakannya, ibu akan mendengarkan. Jika sulit bagimu untuk mengatakannya sekarang, ibu tetap menunggunya.”             Keesokan harinya, anak lelaki itu berlari lebih kencang sampai baju lusuhnya sobek. Ia menangis lebih keras dari sebelumnya. Sang ibu lagi-lagi memeluknya dan menepuk pundaknya. Ibu juga melepas kaos anak itu dan menjahitnya dengan rapi. Melihat sang ibu yang tidak bertanya apa-apa dan hanya menjahit baju, anak itu mendekat dan bertanya, “Ibu, aku lapar. Apakah ada makanan?”    ...

Penikmat Kopi dan Senja

  Kamu melambai ke arahku, dengan senyum riang dan tatapan lembut. Sekarang aku benar-benar melihat wajah aslimu. Rupanya, tidak jauh berbeda dari perkiraanku.  "Ini senja," katamu seolah bertanya padaku apakah tidak apa-apa jika pulang malam. Aku tersenyum. Entah mengapa semua menjadi tak masalah jika bersamamu. Aku melihatmu terkejut ketika mendengarku memesan Americano double shot. Aku tahu isi hatimu. Kamu berpikir perempuan sepertiku pasti lebih menyukai minuman-minuman manis dengan banyak gula dan susu. Kamu tersenyum tipis dan mengikuti pilihanku. Tatapan mata kita beradu. Dua gelas kopi di depan kita mulai srut sedikit demi sedikit menyaksikan obrolan kita yang menggelikan. Kamu bilang kamu lebih menyukai langit senja yang teduh, tenang, dan tidak panas. Sesekali kamu melepas kacamata minusmu dan terlihat garis-garis wajahmu yang tegas, memperhatikanku berkata-kata.  Kamu menatapku lekat sembari melipat kaos lengan panjangmu berkata tersipu, "Aku nervous bertemu ...