Seorang anak laki-laki
bertubuh mungil berjalan dengan sepatu usangnya sambil menangis. Ibunya
tergopoh-gopoh menghampiri. Sang wanita separuh baya itu bertanya, “Ada apa
anakku? Mengapa kamu menangis?” Sang anak tak dapat menahan tangisnya dan
meronta-ronta. Sang ibu yang kebingungan hanya dapat memeluknya sembari menepuk
pundaknya dan berkata, “Kapanpun kau ingin menceritakannya, ibu akan
mendengarkan. Jika sulit bagimu untuk mengatakannya sekarang, ibu tetap
menunggunya.”
Keesokan harinya, anak lelaki itu berlari lebih kencang
sampai baju lusuhnya sobek. Ia menangis lebih keras dari sebelumnya. Sang ibu
lagi-lagi memeluknya dan menepuk pundaknya. Ibu juga melepas kaos anak itu dan
menjahitnya dengan rapi. Melihat sang ibu yang tidak bertanya apa-apa dan hanya
menjahit baju, anak itu mendekat dan bertanya, “Ibu, aku lapar. Apakah ada
makanan?”
Ibu tersenyum dan mendudukkan sang anak di kursi. Ia mengambil beberapa roti dan mengisinya dengan daging. Ia juga menyediakan sayur kesukaan si anak. Anak lusuh itu duduk dan makan dengan lahap. Ia juga meminum susu hangat yang disajikan. Setelah semuanya habis, ia menatap ibunya dengan berlinang air mata dan berkata, “Apakah ibu mau mendengarnya?” Sang ibu mengangguk dan mendengar dengan seksama.
“Teman-temanku berkata sepatu dan bajuku lusuh. Mereka
juga mengatakan aku kecil dan tak berdaya. Aku tidak memiliki apapun, ibu.” Si
anak kembali menangis tersedu-sedu. Sang ibu memeluknya lagi dan bertanya, “Apakah
memiliki sesuatu haruslah berwujud barang atau materi?”
“Aku tidak tahu, ibu,” jawab anak itu sembari menangis putus asa. “Kalau begitu, ibu akan memberimu sebuah hadiah.” Ibu berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah kotak seraya menyerahkan kotak itu pada sang anak.
“Bukalah,” katanya dengan senyum sederhana. Anak
laki-laki itu membuka kotak dengan tidak sabar. Ia menemukan sebuah topi hijau
baru yang cukup keren di dalamnya. Ibu mengambil dan memakaikannya pada
kepalanya. Ibu juga menata rambutnya. “Tampan,” kata ibu. Anak laki-laki itu
melihat bayangan dirinya dari cermin. Ia melihat dirinya yang berbeda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya ibu.”Aku berbeda,” jawab
anak itu. “Apakah kau sekarang merasa memiliki sesuatu?” tanyanya lagi. Anak
itu mengangguk dan tersenyum bahagia.
“Kalau begitu mulai sekarang berjalanlah dengan tegak dan katakan pada dirimu sendiri bahwa kau memiliki sesuatu yang berbeda. Tidak semua orang memiliki topi yang sama denganmu bukan? Jika mereka memilikinya, kemungkinan besar saat dipakai tidak akan seindah saat kau memakainya.”
“Lalu bagaimana jika topi ini menjadi usang dan jelek?”
tanya anak itu lagi. Ibu tersenyum dan berkata, “Tetap berjalan tegap. Angkat
kepala dan bahumu seolah topi itu masih baru. Pandang ke depan. Jika banyak
orang yang berteriak dan mengolokmu, biarkan saja mereka. Buang kata-kata itu
dari telinga, hati, dan pikiranmu. Tinggalkan mereka seperti barang usangmu.
Lihat ke depan dan pilihlah barang barumu. Bukankah menyenangkan?”
Anak itu tersenyum dan memeluk ibunya. Sekarang sang anak
dapat berjalan tegak tanpa merasa malu ataupun khawatir.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, sang anak terus berjalan tegak dengan topi hijaunya. Hingga suatu hari, ia melepaskan topi hijau itu ketika berkaca.
Anak itu membetulkan dasinya dan mengelap sepatunya yang
mahal, ia juga membetulkan kerah bajunya yang indah. Anak itu tersenyum pada
topi usang di tangannya. “Terima kasih untuk membuatku berjalan tegak. Aku tak
lagi mendengar olokan. Tapi, aku juga tidak mau mendengar pujian. Aku tidak mau
bahuku terlalu tinggi dan kepalaku terlalu besar, karena aku tak bisa lagi
memakaimu jika aku sangat membutuhkanmu kelak. Tetaplah di sini untuk
menemaniku dan berikan semangat untukku, topi hijauku.”
Komentar
Posting Komentar